
Klaten | Mediabahri.com – Pascaperayaan Idulfitri, Polres Klaten menggelar silaturahmi bersama Aliansi Ojek Online Klaten Bersatu. Kegiatan yang berlangsung di Mapolres Klaten ini dihadiri langsung Kapolres AKBP Moh. Faruk Rozi, didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Klaten Ny. Dina Faruk, Wakapolres Kompol Heru Sanusi, serta jajaran pejabat utama.
Dalam suasana penuh kehangatan, kegiatan ini diklaim sebagai bentuk kepedulian Polri terhadap para pengemudi ojek online yang selama ini berperan penting dalam menunjang aktivitas masyarakat. Bantuan tali asih pun dibagikan sebagai simbol perhatian.
Namun, di balik nuansa kekeluargaan tersebut, muncul catatan kritis: apakah kegiatan ini benar-benar menyentuh substansi persoalan yang dihadapi para pengemudi ojol di lapangan?
Kapolres Klaten menyampaikan bahwa silaturahmi ini bertujuan mempererat hubungan antara kepolisian dan masyarakat.
“Kami ingin membangun kedekatan dengan rekan-rekan ojek online yang memiliki peran penting bagi masyarakat,” ujar AKBP Faruk, Jumat (3/4/2026).
Pernyataan tersebut tentu patut diapresiasi. Namun realitas di lapangan kerap berbicara lain. Para pengemudi ojol masih menghadapi berbagai persoalan klasik: rawan tindak kejahatan, minim perlindungan, hingga ketidakpastian saat menghadapi konflik di jalan.
Apresiasi kepada pengemudi perempuan sebagai “pahlawan aspal” juga menjadi sorotan. Pengakuan itu penting, tetapi dinilai belum cukup jika tidak dibarengi dengan langkah konkret untuk menjamin keamanan mereka, terutama saat bekerja di jam rawan.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Klaten, AKP Suwoto, menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari strategi menjaga kamtibmas.
“Kami berharap sinergi ini menjadi energi positif dan memperkuat hubungan antara Polri dan masyarakat,” ujarnya.
Mediabahri.com menilai, sinergi sejati tidak cukup dibangun lewat seremoni dan bantuan sesaat. Yang dibutuhkan adalah konsistensi kehadiran aparat di tengah persoalan nyata masyarakat.
Ke depan, publik—terutama para pengemudi ojol—menanti pembuktian: apakah Polres Klaten benar-benar hadir saat mereka menghadapi ancaman di jalan, atau hanya tampil dalam momen-momen seremonial semata.
Sebab pada akhirnya, kepercayaan tidak lahir dari kata-kata, melainkan dari keberanian bertindak.
Reporter: Armila GWI
Editor: Zulkarnain Idrus
