
Mediabahri.com | Klaten — Gerakan serentak penyaluran bantuan sosial (bansos) oleh Polres Klaten melalui Bhabinkamtibmas memantik perhatian. Di satu sisi, langkah ini terlihat sebagai bentuk kepedulian aparat terhadap masyarakat kecil. Namun di sisi lain, publik mulai mempertanyakan: apakah ini solusi nyata atau sekadar aksi simbolik yang berulang tanpa dampak jangka panjang?
Dipimpin langsung Kapolres Klaten, Moh Faruk Rozi, kegiatan asistensi penyaluran sarana kontak Bhabinkamtibmas digelar di seluruh wilayah hukum. Bantuan sembako disalurkan hingga ke rumah warga melalui skema door to door—sebuah pendekatan yang diklaim lebih tepat sasaran.
Namun realitas di lapangan tak sesederhana itu.
Bansos memang bisa meredam beban sesaat, tetapi persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) jauh lebih kompleks. Kemiskinan, pengangguran, hingga potensi konflik sosial tidak bisa diselesaikan hanya dengan pembagian sembako sesekali. Di sinilah publik mulai menguji keseriusan program ini.
Polres Klaten mengusung konsep “sabuk kamtibmas” berbasis kearifan lokal pagar mangkok—sebuah gagasan lama tentang solidaritas warga dalam menjaga lingkungan. Konsep ini ideal di atas kertas, namun sering kali mandek dalam implementasi jika tidak dikawal secara konsisten.
Kasi Humas Polres Klaten, AKP Suwoto, menegaskan bahwa pendekatan humanis menjadi wajah baru kepolisian. Polisi, katanya, tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai bagian dari solusi sosial.
Pernyataan itu tidak keliru. Tapi publik tidak lagi puas dengan narasi.
Yang ditunggu adalah bukti.
Apakah setelah bansos dibagikan, Bhabinkamtibmas tetap aktif mendampingi warga? Apakah ada pemetaan wilayah rawan yang ditindaklanjuti? Atau kegiatan ini akan berhenti begitu agenda seremonial selesai?
Tanpa kesinambungan, program seperti ini rawan menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan makna. Bahkan lebih jauh, berpotensi menimbulkan persepsi bahwa kehadiran aparat hanya terasa saat ada agenda atau kepentingan tertentu.
AKP Suwoto juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga keamanan. Namun, tanggung jawab utama tetap berada di pundak aparat. Sinergi memang penting, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk mengaburkan kewajiban negara dalam memberikan rasa aman.
Kini bola ada di tangan Polres Klaten.
Jika program ini dijalankan secara konsisten, transparan, dan terukur, maka kepercayaan publik bisa tumbuh. Namun jika tidak, maka bansos ini hanya akan dikenang sebagai aksi sesaat—ramai di awal, sunyi dalam hasil.
Reporter: Armila Gwi
Editor: Zulkarnain Idrus
