
KLATEN | Mediabahri.com — Peringatan HUT ke-60 Korem 074/Warastratama kembali diisi dengan kegiatan doa bersama dan santunan anak yatim oleh Kodim 0723/Klaten, Senin (27/4/2026). Bertempat di Masjid Al Muttaqien, agenda ini mengusung tema “Kuat Bersama Rakyat Menuju Indonesia Maju.” Namun, publik tak lagi mudah terkesan dengan serangkaian kegiatan seremonial yang berulang setiap tahun.
Doa lintas agama yang digelar—umat Muslim di masjid, sementara personel Nasrani di Ruang Data—memang menunjukkan wajah toleransi. Tetapi, pertanyaan yang lebih tajam muncul: apakah harmoni internal itu berbanding lurus dengan kepekaan terhadap persoalan masyarakat di lapangan?
Dandim 0723/Klaten, Slamet Hardianto, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk syukur dan kepedulian sosial.
“Pemberian santunan ini adalah upaya kami untuk berbagi dan mempererat hubungan dengan masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut terdengar normatif. Sebab, realitas di lapangan menunjukkan bahwa bantuan sesaat seperti santunan belum tentu menjawab kebutuhan jangka panjang anak-anak yatim dan masyarakat rentan. Publik berhak tahu: berapa jumlah bantuan yang disalurkan? Siapa saja penerima manfaat? Dan yang terpenting, apa tindak lanjut setelah seremoni usai?
Mediabahri.com menilai, kegiatan semacam ini kerap menjadi rutinitas tahunan yang minim evaluasi. Tanpa transparansi dan keberlanjutan program, aksi sosial berisiko menjadi sekadar formalitas—hadir, difoto, lalu dilupakan.
Di sisi lain, penekanan pada profesionalisme dan soliditas prajurit yang disampaikan Dandim patut dicatat. Namun profesionalisme sejati bukan hanya soal kedisiplinan internal, melainkan juga keberanian institusi untuk terbuka, akuntabel, dan benar-benar hadir sebagai solusi di tengah masyarakat.
HUT ke-60 Korem Warastratama seharusnya menjadi momentum refleksi mendalam. Jika tema “Kuat Bersama Rakyat” ingin bermakna, maka pendekatan yang dibutuhkan bukan lagi seremoni simbolik, melainkan langkah nyata yang berkelanjutan, terukur, dan berdampak langsung.
Jika tidak, kegiatan seperti ini hanya akan berakhir sebagai rutinitas tahunan—tajam di panggung, tumpul dalam realitas.
Reporter: Armila Gwi
Editor: Zulkarnain Idrus
