
Mediabahri.com | KLATEN — Penurunan angka kecelakaan lalu lintas selama arus mudik dan balik Lebaran 2026/1447 Hijriah di Klaten patut diapresiasi. Namun di balik capaian itu, aparat kepolisian mengingatkan keras: situasi belum sepenuhnya aman dan potensi lonjakan risiko masih mengintai, terutama di puncak arus balik lanjutan.
Data dari Operasi Ketupat Candi 2026 mencatat, angka kecelakaan menurun dari 11 kasus pada 2025 menjadi sembilan kasus di tahun ini. Lebih jauh, fatalitas juga mengalami penurunan dengan dominasi korban luka ringan dan nihil korban meninggal dunia di lokasi kejadian.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Klaten, Iptu Alif Akbar Lukman, menegaskan bahwa capaian ini bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari langkah preventif yang digencarkan sejak awal.
“Penurunan ini hasil kerja lapangan, patroli intensif, dan penindakan. Tapi jangan diartikan situasi sudah aman sepenuhnya. Justru sekarang momen rawan karena banyak pengendara mulai lengah,” tegasnya, Jumat (27/3/2026).
Ia mengungkapkan, kecelakaan masih didominasi kendaraan roda dua—indikasi bahwa kesadaran berkendara masyarakat belum sepenuhnya berubah. Di sisi lain, beroperasinya jalur tol memang mengurangi beban di jalur arteri Solo–Yogyakarta, namun bukan berarti risiko hilang.
Satlantas pun menyoroti sejumlah titik rawan yang tetap berpotensi memakan korban, seperti kawasan Prambanan dan Delanggu. Di lokasi-lokasi ini, patroli dan tim urai terus disiagakan, termasuk penindakan terhadap pelanggaran kasat mata seperti knalpot brong dan aksi ugal-ugalan.
“Jangan tunggu ada korban baru bertindak. Kami sudah petakan titik rawan, tinggal bagaimana masyarakat juga disiplin,” sindirnya.
Meski operasi resmi telah berakhir, kepolisian memastikan pengawasan tidak akan kendur. Pasalnya, gelombang kedua arus balik diprediksi terjadi pada 28–29 Maret 2026—periode yang dinilai lebih berisiko karena kepadatan tidak merata dan cenderung sporadis.
Kapolres Klaten AKBP Moh Faruk Rozi bahkan mengingatkan jajarannya agar tidak terjebak euforia penurunan angka kecelakaan. Ia menilai kondisi saat ini justru membutuhkan kewaspadaan ekstra.
“Kita tidak boleh lengah. Banyak masyarakat menunda perjalanan karena kebijakan WFH. Ini berpotensi memicu lonjakan kendaraan di akhir pekan,” tegasnya.
Menurutnya, arus kendaraan dari arah Yogyakarta maupun menuju barat harus benar-benar dijaga agar tetap mengalir tanpa hambatan. Jika tidak diantisipasi dengan serius, potensi kemacetan dan kecelakaan bisa kembali meningkat.
Peringatan pun disampaikan tegas kepada para pemudik: jangan jadikan turunnya angka kecelakaan sebagai alasan untuk berkendara sembarangan.
“Kalau lelah, berhenti. Kalau kendaraan tidak layak, jangan dipaksakan. Jalan bukan tempat uji nyali,” tutup Iptu Alif.
Penurunan angka fatalitas memang kabar baik. Namun tanpa disiplin dan kesadaran pengendara, capaian itu bisa berubah menjadi sekadar angka sementara. Di jalan raya, satu kelalaian kecil bisa berujung fatal.
Jurnalis: Arwani GWI
Editor: Zulkarnain Idrus
