Mediabahri.com | Medan — Kontestasi menuju Musyawarah Daerah (Musda) DPD KNPI Kota Medan kian memanas. Rifqi Aulia Tanjung, S.H. secara resmi mendaftarkan diri sebagai Bakal Calon Ketua DPD KNPI Kota Medan, dengan modal politik organisasi yang kuat dan terukur.
Dalam press conference terbuka bersama insan pers dan perwakilan organisasi kepemudaan, Rifqi secara tegas menyampaikan telah mengantongi 60 rekomendasi sah dari OKP dan DPK, angka signifikan yang mencerminkan arus dukungan riil di akar organisasi kepemudaan Kota Medan.
“Ini bukan sekadar formalitas pencalonan. Ini adalah mandat moral dan tanggung jawab besar untuk membenahi KNPI Kota Medan agar kembali ke khitahnya sebagai rumah besar pemuda,” tegas Rifqi.
Ia menyoroti kondisi KNPI yang selama ini kerap tersandera konflik internal, stagnasi program, dan kehilangan daya tawar strategis. Menurut Rifqi, KNPI harus keluar dari jebakan elitis dan pragmatis, lalu hadir sebagai organisasi yang progresif, inklusif, dan berani bersikap.
“KNPI tidak boleh hanya jadi penonton pembangunan. Harus menjadi mitra kritis pemerintah, sekaligus pengawal kepentingan pemuda,” ujarnya lantang.
Rifqi juga menyerukan agar seluruh tahapan Musda dijalankan secara demokratis, transparan, dan bebas dari manuver tidak sehat, termasuk praktik transaksi dukungan dan intervensi kepentingan sempit yang berpotensi merusak legitimasi kepemimpinan KNPI ke depan.
“Siapapun yang terpilih harus lahir dari proses yang jujur. KNPI yang kuat hanya bisa lahir dari Musda yang bermartabat,” tegasnya.
Diketahui, Rifqi Aulia Tanjung merupakan figur muda berlatar belakang hukum dan putra dari mantan Ketua DPD KNPI Provinsi Sumatera Utara periode 1998–2001, Prof. Dr. H. Bahdin Nur Tanjung, SE, MM. Meski demikian, Rifqi menegaskan tidak ingin bertumpu pada romantisme sejarah, melainkan menawarkan gagasan, keberanian, dan kerja nyata.
Press conference ini menjadi sinyal awal konsolidasi besar pemuda Kota Medan menjelang Musda, sekaligus ujian apakah KNPI benar-benar mampu melahirkan kepemimpinan yang berintegritas atau kembali terjebak pada pola lama yang stagnan dan transaksional.
Reporter: Mhd. Zulfahri Tanjung
Editor: Zulkarnain Idrus
