Isra’ Mi’raj di Masjid Baitul Muttaqin Sudji, Jamaah Diajak Jujur pada Shalat dan Cinta Rasul

Redaksi Media Bahri
0
Foto bersama Al Ustad H. Ibnu Jarot Jauhari M.Pd dengan para pengurus Masjid  dan tokoh masyarakat

Mediabahri.com | Binjai — Masjid Baitul Muttaqin Sudji di Jl. Gumba Lingkungan X, Kelurahan Cengkeh Turi, Kecamatan Binjai Utara, Selasa malam (20/1/2026), dipenuhi jamaah yang datang bukan sekadar untuk hadir, tapi untuk merenung.


Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW malam itu berlangsung sederhana, tanpa gemerlap berlebihan, namun terasa hangat dan hidup. Jamaah duduk berbaur—orang tua, anak muda, hingga anak-anak—menjadi satu dalam suasana ibadah yang tenang dan akrab. 

Para jemaah dengan penuh antusias mengikuti tausiah  Al Ustad  H. Ibnu Jarot M.Pd

Temayang diangkat, “Mari Kita Tingkatkan Iman dan Takwa kepada Allah SWT dan Kecintaan Kita kepada Rasulullah,” bukan sekadar slogan. Tema ini justru menjadi tamparan halus agar umat kembali jujur menilai kualitas imannya sendiri, terutama soal shalat. 


KetuaBKM Masjid Baitul Muttaqin Sudji, Muhammad Idris, menyampaikan bahwa Isra’ Mi’raj harus dimaknai lebih dari sekadar peringatan tahunan.


“Isra’ Mi’raj itu pengingat. Kalau shalat masih sering ditinggal, ditunda, atau dikerjakan asal-asalan, berarti pesan Isra’ Mi’raj belum benar-benar sampai ke kita,” ujarnya lugas. 


SekretarisBKM, Ahmad Zulfikar, S.H., M.H., menambahkan bahwa masjid seharusnya menjadi tempat membenahi diri, bukan sekadar tempat singgah saat acara besar.

“Masjid harus hidup setiap hari, bukan hanya ramai saat peringatan. Dari masjid inilah seharusnya lahir akhlak yang baik di tengah masyarakat,” katanya.


Tausiah Santai, Pesan Menampar Kesadaran

Tausiah disampaikan oleh Ustadz H. Ibnu Jarot Jauhari, M.Pd., dengan gaya tenang, santai, namun menusuk kesadaran jamaah. Tanpa meninggikan suara, pesan yang disampaikan justru terasa lebih dalam.


Ia menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj adalah bukti betapa pentingnya shalat dalam Islam.


“Kalau urusan shalat saja kita masih malas, bagaimana mau mengaku cinta Rasul? Padahal shalat itu hadiah langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW,” ucapnya. 


UstadzIbnu Jarot juga mengingatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup diwujudkan lewat spanduk, tema, atau peringatan seremonial.

“Cinta Rasul itu kelihatan dari sikap. Jujur dalam kerja, amanah dalam jabatan, adil dalam bersikap, dan tidak menyakiti orang lain. Kalau itu belum ada, berarti cinta Rasul masih sebatas lisan,” tegasnya.


Pulang dengan Pekerjaan Rumah

Acara ditutup dengan doa bersama. Namun bagi jamaah, malam itu bukan akhir, melainkan awal untuk membawa pulang pekerjaan rumah iman: memperbaiki shalat, menjaga akhlak, dan meneladani Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. 


PeringatanIsra’ Mi’raj di Masjid Baitul Muttaqin Sudji menjadi pengingat bahwa iman tidak cukup dirayakan, tetapi harus dibuktikan—dimulai dari sajadah, lalu dibawa ke kehidupan nyata.

Redaksi Mediabahri.com
Editor: Zulkarnain Idrus

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Lanjutkan, Go it!) #days=(20)

Terima Kasi sudah berkunjung ke Media Bahri, Info Lewat WhatSapp Hubungi Sekarang
Ok, Go it!