JAKARTA | Mediabahri.com — Ketua Umum Persatuan Nasional Pemuda Indonesia (PNPI), Syamsul Rizal, menegaskan bahwa kebangkitan nasionalisme generasi muda harus menjadi salah satu kekuatan utama dalam konsolidasi Pemuda PNPI periode 2026–2028.
Menurut Syamsul, pembangunan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan ekonomi, teknologi dan infrastruktur. Indonesia membutuhkan generasi muda yang memiliki nasionalisme kuat, integritas, persatuan dan kepedulian terhadap rakyat.
“Pemuda bukan hanya pewaris masa depan Indonesia. Pemuda harus ikut membangun masa depan itu sejak hari ini. Karena itu, nasionalisme harus kita hidupkan kembali dalam bentuk kerja nyata, pengabdian dan kepedulian terhadap bangsa,” tegas Syamsul Rizal.
NASIONALISME JANGAN BERHENTI PADA SEREMONI
Syamsul mengingatkan bahwa nasionalisme tidak boleh hanya muncul ketika upacara, peringatan hari besar nasional atau momentum seremonial lainnya.
Nasionalisme harus diwujudkan melalui kejujuran, disiplin, persatuan, gotong royong, kepedulian sosial dan keberanian mengambil tanggung jawab dalam pembangunan.
Semangat Sumpah Pemuda 1928, menurutnya, harus terus diwariskan kepada generasi sekarang. Persatuan pemuda yang dahulu menjadi kekuatan perjuangan bangsa harus diterjemahkan dalam konteks kekinian melalui produktivitas, inovasi dan pengabdian.
“Semangat Sumpah Pemuda jangan hanya kita kenang sebagai sejarah. Semangat itu harus menjadi energi untuk menjawab persoalan bangsa hari ini,” ujarnya.
DI ERA DIGITAL, NASIONALISME PEMUDA MENGHADAPI UJIAN
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan membawa perubahan besar terhadap kehidupan generasi muda. Di satu sisi, teknologi membuka kesempatan yang luas. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga dapat memicu perpecahan apabila tidak disikapi secara bijak.
Karena itu, PNPI mendorong pemuda agar menjadi generasi yang cerdas bermedia, tidak mudah terprovokasi, mampu menyaring informasi dan menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Pemuda harus mampu menjadikan teknologi sebagai alat untuk menciptakan karya, memperluas pendidikan, mengembangkan usaha dan memperkuat ekonomi masyarakat.
BANGKITKAN NASIONALISME MELALUI KARYA
Syamsul menegaskan, nasionalisme paling kuat bukan hanya diucapkan, tetapi dibuktikan melalui kontribusi.
Pemuda harus berani menciptakan lapangan kerja, mengembangkan UMKM, menggerakkan ekonomi kreatif, memperkuat pertanian modern, mendukung ketahanan pangan, mengembangkan teknologi serta membantu pemberdayaan masyarakat.
Pemuda yang bekerja dan berkarya untuk kemajuan masyarakat adalah wujud nyata nasionalisme.
Karena itu, konsolidasi PNPI 2026–2028 harus diarahkan menjadi konsolidasi karya dan gerakan sosial yang berdampak.
PEMUDA HARUS MENJADI PENJAGA PERSATUAN
Di tengah perbedaan pilihan, pandangan dan latar belakang, Syamsul mengajak generasi muda untuk tidak mudah terpecah.
Menurutnya, perbedaan merupakan bagian dari kekayaan bangsa. Namun, kepentingan persatuan dan keutuhan Indonesia harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok.
“Pemuda harus menjadi perekat bangsa. Jangan menjadi generasi yang mudah diadu domba. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi persatuan Indonesia harus tetap menjadi titik temu,” tegasnya.
PNPI SIAP KONSOLIDASIKAN KEKUATAN PEMUDA
Konsolidasi Pemuda PNPI periode 2026–2028 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kaderisasi, memperluas kolaborasi dan melahirkan pemimpin muda yang berintegritas serta memiliki wawasan kebangsaan.
Syamsul menegaskan PNPI harus menjadi rumah besar bagi pemuda untuk belajar, berkarya, mengabdi dan mengambil peran dalam pembangunan nasional di masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
“Nasionalisme tidak boleh padam. Pemuda harus bangkit, bersatu dan bergerak. Kita tidak boleh hanya menunggu masa depan Indonesia. Kita harus membangunnya mulai hari ini,” pungkasnya.
Redaksi: Mediabahri.com

